Rabu, 20 Oktober 2010

LKS BAB 3

Standar Kompetensi
Menganalisis perjuangan bangsa Indonesia sejak proklamasi hingga lahirnya orde baru.
Kompetensi Dasar
Menganalisis perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dari ancaman disintegrasi bangsa terutama dalam bentuk pergolakan dan pemberontakan.
Indikator :
1. Mendeskripsikan gejolak sosial di berbagai daerah pada awal abad kemerdekaan.
2. Mendeskripsikan perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman dari luar.
3. Mendeskripsikan perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman dari dalam negeri (PKI Madiun, DI/TII, Andi Azis, RMS, PRRI, Premesta, G 30 S ‘ 65 / PKI)
Materi Pokok :
1. Perjuangan bersenjata menghadapi kekuatan asing.
2. Perjuangan diplomasi menghadapi kekuatan asing
3. Perjuangan menghadapi pemberontakan diberbagai daerah di Indonesia (PKI Madiun, DI/TII, Andi Azis, RMS, PRRI, Premesta, G 30 S ‘ 65 / PKI)

I. URAIAN MATERI
A. Perjuangan menghadapi ancaman dari luar
1. Perjuangan Bersenjata
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 muncul protes-protse baik dari dalam maupun dari luar negeri yang membatalkan berdirinya RI dan mengubah dasar negara (Pancasila). Tekanan-tekanan dari pihak Sekutu (Inggris) yang diboncengi Belanda untuk menjajah Indonesia seperti dahulu, menimbulkan perlawanan rakyat di berbagai daerah dalam mempertahankan kemerdekaan dan menegakkan kedaulatan RI. Ambisi Belanda untuk menguasai Indonesia mempergunakan tindakan agresi militer dengan dukungan NICA (Netherlands Indies Civil Administration), juga memanfaatkan tentara Sekutu dan politik memecah belah dengan membentuk Negara-negara boneka seperti Negara Pasundan, negara Indonesia Timur, dll.
a. Bandung Lautan Api
Sejak Sekutu memasuki Bandung pada pertengahan bulan Oktober 1945, selalu mendapat serangan dari tentara RI. Sekutu telah membagi kota Bandung menjadi dua yaitu Bandung Utara dan Bandung Selatan.
Pemuda-pemuda diharuskan menyerahkan senjatanya. Pihak Inggris menduduki bagian utara dan RI menduduki bagian selatan dengan batas jalan kereta api yang memanjang dari barat ke timur. Para pemuda menolak menyerahkan senjata sehingga terjadi pertempuan yang sengit dalam kota. Tentara RI terdesak sehingga mengundurkan diri sambil membumihanguskan Bandung Selatan. Peristiwa itu terkenal dengan peristiwa Bandung Lautan Api.
Tokoh-tokoh dari pertempuran ini yaitu pahlawan Toha dari Bandung Selatan AH. Nasution, dan Kol. Hidayat.
b. Pertempuran Surabaya (10 November 1945)
Pertempuran di Surabaya melawan pasukan Sekutu tidak lepas kaitannya dengan peristiwa yang mendahuluinya, yaitu perebutan kekuasaan dan senjata dari tangan Jepang yang dimulai sejak 2 September 1945. Perebutan kekuasaan dan senjata ini membangkitkan suatu pergolakan, sehingga berubah menjadi situasi revolusi yang konfrontatif.
Para pemuda berhasil memiliki persenjataan dan pemerintah mendukung sepenuhnya tindakan-tindakan mereka, sehingga keduanya menghadapi dan mempertahankan berbagai ancaman yang datang darai manapun. Pada tanggal 25 Oktober 1945, Brigade 49 dibawah pimpinan Brigadr Jendral AWS. Mallaby mendarat di Surabaya. Brigade ini merupakan bagian ke-23 dibawah pimpinan Jenderal DC. Hawthorn. Mereka ditugaskan oleh panglima AFNEI (Allied Forces Netherland East Indies) untuk melucuti serdadu Jepang dan menyelamatkan para interniran sekutu.
Pemimpin pasukan Sekutu menemui Gubernur KA. Soerjo (pemegang pemerintahan Indonesia di Jatim) namun pemerintah Jatim merasa enggan menerima mereka. Setelah diadakan pertemuan antara wkil-wakil pemerintah RI dengan Brigjen AWS. Mallaby, pertemuan itu menghasilkan satu keputusan.
a. Inggris berjanji bahwa diantara mereka tidak terdapat angkatan perang Belanda.
b. Disetujui kerjasama antara kedua belah pihak untuk menjamin keamanan dan ketentraman
c. Akan segera dibentuk kontrak biro agar kerjasama dapat terlaksana sebaik-baiknya.
d. Inggris hanya akan melucuti senjata Jepang saja.
Pada tanggal 26 Oktober malam hari satu pleton Fioeld Security Section di bawah pimpinan Kapten Shaw melakukan penyerangan ke penjara Kalisosok untuk membebaskan Kol. Huiyer (seoang Kolonel angkatan laut Belanda) bersama kawan-kawannya. Tindakan Inggris dilanjutkan dengan menduduki pangkalan udara Tanjung Perak, Kantor Pos Besar, gedung Internatio, dan obyek-obyek vital lainnya dan tanggal 27 Oktober 1945 pukul 11.00 pesawat terbang Inggris menyebarkan pamphlet-pamflet yang berisi perintah agar rakyat Surabaya dan Jatim menyerahkan senjata yang dirampas dari Jepang. Adanya sikap yang tidak patuh dengan kesepakatan dari pihak Sekutu berakibat munculnya kontak senjata yang pertama pada tanggal 27 Oktober 1945. Dalam pertempuran ini sekutu dapat dipukul mundur dan bahkan hampir dapat dihancurkan oleh pasukan Indonesia.
Penyerangan terhenti setelah Inggris minta bantuan Presiden Soekarno untuk menghentikannya. Sedangkan beberapa hari pertempuran berkecamuk lagi dan mengakibatkan tewasnya Mallaby. Karena peristiwa itu, pihak Inggris mengeluarkan ultimatum yang menyinggung rakyat Surabaya, akhirnya ultimatum itu ditolak rakyat Surabaya, peristiwa ini terjadi tanggal 10 Novemer 1945, dan terjadilah pertempuran besar di Surabaya.
c. Pertempuran Ambarawa – Magelang
Pertempuan di Ambarawa terjadi pada tanggal 20 November 1945 dan berakhir pada 12 Desember 1945, antara pasukan TKR dan pemuda Indonesia melawan pasukan Inggris. Peristiwa ini berlatar belakang insiden di Magelang sesudah mendaratnya Brigade Artileri dari divisi India ke-23 di Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945. Pihak RI memperkenankan mereka untuk mengurus tawanan perang yang berada di penjara Ambarawa dan Magelang. Tetapi karena kedatangan pasukan Ingris diikuti oleh orang-orang NICA yang kemudian mempersenjatai para bekas tawanan itu maka terjadilah pertempuran pada tanggal 28 Oktober 1945. Insiden itu berhenti setelah Presiden Soekarno dan Brigjen Bethell datang ke Magelang tanggal 2 November 1945.
Terjadi perundingan gencatan senjata dan memperoleh kata sepakat yang berisi antara lain :
a. Pihak Sekutu tetap menempatkan pasukannya di Magelang untuk melindungi dan mengurus evaluasi APWI. Jumlah pasukan Sekutu dibatasi sesuai keperluan itu.
b. Jalan raya Magelang-Ambarawa terbuka sebagi jalur lalu lintas Indonesia dan Sekutu.
c. Sekutu tidak akan mengakui aktivitas NICA dalam badan-badan yang dibawakannya.
Pihak Sekutu ternyata mengingkari janji. Maka pada tanggal 20 November 1945 di Ambarawa pecah pertempuran antara TKR dan Tentara Sekutu. Di bawah pimpinan Kolonel Sudirman, pasukan RI berhasil merebut kota Ambarawa dan pada tanggal 15 Desember 1945 pasukan Sekutu munur ke Semarang.
d. Pertempuran Medan Area
Di Sumatera Utara rakyat di bawah Gubernur Mr. Teuku M. Hasan dan pemuda Akhmad Tahir mengambil alih gedung-gedung pemerintahan dan merebut senjata dari Jepang. TKR pun segera di bentuk, sementara itu Belanda dibawah Westerling mendaratkan pasukannya di Medan kemudian disusul oleh tentara sekutu di bawah pimpinan TED. Kelly, insiden terjadi dan mulailah perjuangan yang dikenal sebagai pertempuran Medan Area (13 Oktober 1945)
e. Pertempuran 5 hari di Semarang (pada naskah)
Dimulai 14 Oktober 1945 ketika meninggalnya Dr. Kariyadi di Peterongan, para pemuda menangkap Jendral Hakamura. Hal ini menyebabkan kemarahan dari Jepang Sehingga terjadilah pertempuran antara para pemuda dengan pihak Jepang. Pada tanggal 17-10-1945 terjadi kesepakatan genjatan senjata. Pada hari kelima (18-10-1945) Jepang berhasil mematahkan serangan dari para pemuda. Malam harinya para pemuda tidak mau menyerahkan senjatanya. Disaat Jepang ingin menghancurkan Kota Semarang tiba-tiba datanglah tentara sekutu sehingga berakhirlah pertempuran lima hari di Semarang.
f. Agresi Militer Belanda
a. Agresi Militer Belanda I
Latar belakang adalah adanya penolakan pihak RI terhadap tuntutan Belanda yang berisi tentang keharusan RI untuk mengirim beras dan penyelenggaraan gendarmie (keamanan dan ketertiban bersama). Serangan ini dilakukan pada tanggal 21 Juli 1947 dengan sasaran kota-kota besar di Jawa, daerah perkebunan dan minyak di Sumatera.
Mengahdapi agresi ini, pihak RI membangun pertahanan baru dengan sistem wehlkreise dengan taktik perang gerilya. Adanya agresi ini, DK PBB kemudian memerintahkan gencatan senjata, yaitu tanggal 4 Agustus 1947.
b. Agresi Militer Belanda II
Latar belakangnya adalah adanya pengingkaran Belanda terhadap hasil perjanjian Renville dimana Belanda sudah tidak mau terikat lagi dengan isi perjanjian Renville. Agresi ini ditandai dengan penyerangan Belanda terhadap ibukota Negara yaitu Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948 dengan tujuan menghancurkan republik dan pemerintahan Indonesia.
Langkah yang diambil oleh pemerintah RI adalah :
1. Presiden dan wakil presiden dan pejabat tinggi yang lain tetap berada di dalam kota agar dekat dengan KTN.
2. Pembentukan PDRI di Sumatera oleh Syarifuddin Prawiranegara.
3. Bila PDRI di Sumatera gagal,agar Mr. Maramis membentuk PDRI di India.
4. TNI melaksanakan gerilnya
Perebutan kota Yogyakarta dilakukan oleh Letkol Suharto yang dikenal dengan istilah Serangan 1 Maret 1949 dan berhasil menduduki Yogya selama 6 jam.
Makna serangan ini adalah :
1) Ke dalam : Menumbuhkan dorongan /semangat kepada TNI yang berjuang serta rakyat Indonesia
2) Keluar : membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI dan RI masih ada
2. Perjuangan dengan Diplomasi.
Usaha perundingan antara Indonesia dengan Belanda dirintis sendiri oleh Jenderal Sir. Philip Christison (AFNEI) pada bulan Oktober 1945, dengan mempertemukan presiden RI dengan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dr. Hj. Van Mook. Usaha Cristison ini mengalami kegagalan karena masing-masing bertahan pada pendiriannya.
Perundingan dirintis kembali sesudah kabinet Syahrir terbentuk pada bulan November 1945. pemerintah Inggris mengirimkan Clark kern sebagai duta istimewa di Indonesia.
Perundingan di mulai tanggal 10 Pebruari 1946. Dalam perundingan ini Van Mook tetap akan menjadikan Indonesia sebagai Commonwealth (persemakmuran) melalui masa peralihan 10 tahun. Tetapi Indonesia tetap minta diakui sebagai Negara berdaulat penuh atas wilayah bekas jajahan Hindia Belanda, perundingan ini pun gagal.
Guna menyelesikan dengan segera, maka diadakan perundingan di Hooge Value pada tanggal 14-25 April 1946. Indonesia diwakili Mr. Suwandi, Dr.Sudarsono, AK. Pringgodigdo dan Belanda oleh Van Mook sedangkan Inggris oleh Sir Archibald Clark. Perundingan inipun gagal karena sepihak Belanda mengadakan konferensi Malino 15 juli 1946 untuk tujuan memecah belah Indonesia dengan cara mendirikan Negara boneka seperti Indonesia Timur, Borneo Barat, Pasundan, Madura, Sumatera Timur, Jawa Timur, dll.
Untuk memulai perundingan baru, maka terlebih dahulu harus diciptakan suasana damai atas usaha Lord Killearn pada tanggal 7 Oktober 1946 dilaksanakan persetujuan gencatan senjata yang dilakukan oleh PM. Sutan Syahrir dari Indonesia dan Prof. Schermerhorn dari Belanda.
a. Perundingan Linggarjati (10 – 15 November 1946)
Indonesia dalam perundingan ini diwakili oleh Sutan Syahrir, sedangkan wakil pihak Belanda diwakili oleh Prof. S. Schermerhorn dan Dr.Hj.Van Mook. Penengahnya dari pihak Inggris, yaitu Lord Killern. Pokok-pokok kesepakatan yang dihasilkan antara lain, sebagai berikut :
a. Belanda mengakui secara de facto RI dengan wilayah kekuasaan meliputi Jawa, Madura, Sumatera. Untuk itu Belanda harus meninggalkan daerah de facto paling lambat tanggal 1 Januari 1949.
b. RI dan belanda akan bekerjasama membentuk Negara Indonesia serikat dan salah satu Negara bagiannya adalah RI.
c. Negara Indonesia Serikat dan Belanda akan bersatu menjadi Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai kepala Uni.
Belanda melanggar perjanjian Linggarjati dengan melancarkan Agresi Militer I tanggal 21 Juli 1947.
b. Perundingan Renville
Dalam upaya membantu menyelesaikan sengketa antara Indonesia dan Belanda maka DK PBB mendesak diadakannya gencatan senjata yang terjadi 4 Agustus 1947 serta membentuk komisi tiga Negara (KTN), Negara-negara tersebut adalah :
a) Australia (tunjukan Indonesia), diwakili oleh Richard Kirby.
b) Belgia (tunjukan Belanda) diwakili oleh Paul Van Zeelan.
c) Amerika Serikat (netral), diwakili oleh Dr. Frank Graham.
Atas usul KTN maka pada tanggal 8 Desember 1947 dilaksanakan perundingan antara Indonesia dan Belanda di atas kapal Renville milik AS yang sedang berlabuh di Jakarta.
Delegasi Indonesia terdiri atas PM. Amir syarifuddin, Mr. Ali Sastroamidjoyo, Dr. Tjoa sik len, Mr. Roem, Haji Agus Salim, Mr. Nasrun dan Ir. Djuanda. Delegasi Belanda terdiri atas Abdul Kadir Widjoyoatmojo, Jhr. Van Vredenburgh, Dr.Soumokil, Pangeran Kartanegara dan Zulkarnaen.
Setelah melalui perdebatan dan permusyawaratan dari tanggal 8 Desember 1947 sampai 17 Juni 1948 maka diperoleh persetujuan Renville. Pokok-pokok isi persetujuan sebagai berikut:
a. Belanda tetap berdaulat atas seluruh wilayah Indonesia sampai kedaulatannya diserahkan kepada RIS yang segera dibentuk.
b. RIS mempunyai pendudukan yang sejajar dengan Negara Belanda dalam Uni Indonesia-Belanda.
c. RI akan merupakan Negara bagian dari RIS
d. Sebelum RIS terbentuk, Belanda dapat menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada pemerintahan federal sementara.
e. Pasukan RI yang berada di daerah kantong harus ditarik ke daerah RI
Kerugian-kerugian yang diderita Indonesia dari perjanjian Renville adalah :
a. Indonesia terpaksa menyetujui dibentuknya Negara Indonesia serikat melalui masa peralihan.
b. Indonesia kehilangan sebagian daerahnya karena garis Van Mook terpaksa harus diakui sebagai daerah kekuasaan Belanda
c. Pihak republik harus menarik seluruh pasukannya yang ada di daerah kekuasaan Belanda dan dari kantong-kantong gerilya masuk daerah RI.
Akibat buruk bagi pemerintah RI dengan penandatanganan perjanjian ini adalah :
a. Wilayah RI menjadi semakin sempit dan dikurung oleh daerah-daerah kekuasaan Belanda.
b. Timbulnya reaksi keras dikalangan pemimpin-pemimpin RI mengakibatkan jatuhnya kabinet Amir Syarifuddin yang dianggap telah menjual Negara kepada Belanda.
c. Perekonomian Indonesia diblokade secara ketat oleh Belanda.
d. Indonesia terpaksa harus menarik mundur kesatuan-kesatuan militer dari daerah-daerah gerilya, kemudian hijrah ke wilayah RI yang berdekatan.
Kabinet Amir syarifuddin jatuh dan digantikan kabinet Hatta. Amir syarifuddin yang kecewa akhirnya menjadi oposisi kabinet Hatta dan bersama Muso mengobarkan pemberontakan PKI di Madiun pada bulan September 1948, saat bangsa Indonesia sibuk menghadapi ancaman agresi militer Belanda II.
c. Perundingan Roem-Royen (17 April – 7 Mei 1949)
Perundingan ini merupakan perundingan pendahuluan sebelum KMB. Salah satu kesepakatan yang dicapai adalah Indonesia bersedia menghadiri KMB yang akan dilaksanakan di Den Haag negeri Belanda. Untuk menghadapi KMB dilaksanakan konferensi inter Indonesia yang bertujuan untuk mengadakan pembicaraan antara badan permusyawaratan federal (BFO/Bijenkomst Voor Federal Overleg) dengan RI agar tercapai kesepakatan mendasar dalam menghadapi KMB.
Komisi PBB yang menangani Indonesia digantikan UNCI. UNCI berhasil membawa Indonesia-Belanda ke meja perundingan pada tanggal 7 Mei 1949 yang dikenal dengan persetujuan Roem-Royen (Roem-Royen Statement) yang isinya antara lain :
a. Belanda harus pergi meninggalkan daerah Yogyakarta
b. Presiden dan wakil presiden kembali ke Yogyakarta
c. Panglima mengembalikan mandatnya kepada pemerintah Presiden Soekarno.
d. Peranan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
Proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, secara hukum internasional mempunyai suatu landasan dasar. Landasan tersebut adalah landasan dasar internasional yang terdapat dalam piagam Atlantik dan piagam San Fransisco. Kedua piagam ini memperkuat kedudukan proklamasi kemerdekaan Indonesia dan memberikan cermin terhadap seluruh bangsa-bangsa di dunia. Proklamasi kemerdekaan Indonesia juga memperlihatkan adanya hubungan yang principal dengan piagam perdamaian PBB (charter of peace). Di samping itu, bangsa Indonesia sejak awal berdirinya RI telah menaruh perhatian besar terhadap PBB sebagai satu-satunya badan internasional yang menjadi harapan bagi setiap bangsa di dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya.
Harapan tersebut terpenuhi ketika PBB turut campur dalam peristiwa Agresi Belanda yang dilancarkan terhadap wilayah dan kedaulatan RI. Dari sidang-sidang yang dilakukan PBB ada beberapa hasil yang memperjelas posisi Indonesia, yaitu :
1. Piagam pengakuan kedaulatan (27 Desember 1949)
2. Pembentukan RIS
3. Pembentukan Uni Indonesia-Belanda
4. Pembubaran tentara KNIL dan KL yang diintegrasikan ke dalam APRIS
5. Piagam tentang kewarganegaraan
6. Persetujuan tentang ekonomi keuangan
7. Masalah Irian Barat akan dibicarakan kembali setahun kemudian
Maka dalam pengakuan kedaulatan tanggal 27 Desember 1949 berakhirlah masa revolusi bersenjata di Indonesia secara de jure. Pihak Belanda telah mengakui kemerdekaan Indonesia dalam bentuk Negara RIS. Namun atas kesepakatan rakyat Indonesia tanggal 17 Agustus 1950 RIS dibubarkan dan dibentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
e. Konferensi Meja Bundar (KMB)
Pada tangal 23 Agustus 1949 dimulai di Den Haag belanda. Konferensi ini berlangsung sampai tanggal 2 November 1949. Delegasi Indonesia yang menghadiri KMB adalah Drs. Moh Hatta (ketua) Mr. moh. Roem, Prof Dr. Mr. Soepomo, dr.J.Leimena, Mr. Ali Sastroamijoyo, Ir.Djuanda,dr. Sukiman, Mr. Suyono Hadinoto, Dr. Sumitro Hadinoto, Dr. Sumitro Djojohadikusumo, Mr. Abdul Karim Pringgodigdo, kol. Tb. Simatupang dan Mr. Mawardi. Sedangkan delegasi BFO dipimpin oleh Sultan Hamid II dari Pontianak.
Hasil-hasil KMB sebagai berikut:
1. Belanda mengakui RIS sebagai negara yang merdeka
2. status karesidenan Irian Barat diselesaikan dalam waktu setahun, sesudah pengakuan kedaulatan.
3. Akan dibentuk Uni Indonesia-belanda berdasarkan kerjasama sukarela dan sederajat.
4. RIS mengembalikan hak milik Belanda dan memberikan hak konsensi dan izin baru atas perusahaan-perusahaan Belanda.
5. RIS harus membayar semua hutang Belanda yang ada sejak 1942.
f. Terbentuknya RIS (Republik Indonesia Serikat)
Salah satu keputusan KMB di Den Haag adalah Indonesia menjadi Negara serikat dengan nama RIS. Untuk membentuk Negara RIS tersebut, pada tanggal 14 Desember 1949 wakil-wakil pemerintah yang akan menjadi bagian dari RIS, KNIP dan DPR mengadakan sidang di Jakarta. Sidang tersebut berhasil menyetujui naskah UUDS untuk RIS. Pada tanggal 16 Desember diadakan sidang pemilihan presiden untuk RIS di gedung kepatihan Yogyakarta oleh wakil-wakil dari Negara bagian. Ir. Soekarno terpilih sebagai presiden sebab dia tokoh yang paling popular baik di wilayah RI maupun di lingkungan BFO
g. Pengakuan Kedaulatan
Pada tanggal 27 Desember 1949 pemerintah Belanda menyerahkan kedaulatan atas Indonesia kepada RIS. Penyerahan dan sekaligus pengakuan kedaulatan itu dilakukan di dua tempat, yaitu :
a. Di negeri Belanda, Ratu Juliana, PM. Willem dress, dan Menteri Seberang lautan Mr.A.M.J.M. Sassen menyerahkan kedaulatan kepada ketua delegasi Indonesia (RIS) Rrs. Moh. Hatta.
b. Di Jakarta, wakil tinggi mahkota A.H.J.Lovink menyerahkan kedaulatan kepada wakil pemerintah RIS Sri Sultan HB IX
Setelah diadakan penyerahan kedaulatan pada 27 desember 1949 pemerintah Belanda secara resmi telah mengakui kedaulatan Indonesia.

B. Perjuangan menghadapi gangguan keamanan dalam negeri
Gangguan keamanan dalam negeri sejak Indonesia masih berusia muda dapat dikelompokkan dalam dua golongan :
Yang didalangi/terkait dengan kaum kolonial maupun kaki tangannya, misalnya :
a. APRA di Bandung maupun Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Kapten Reymond Westerling pada bulan Januari 1950. Penyebabnya adalah karena tuntutan Westerling agar APRA (eks KNIL) yang di Jawa Barat dijadikan tentara Negara Jawa Barat serta penolakan pembubaran Negara Jawa Barat, ditolak oleh Pemerintah RIS.
b. Pemberontakan Andi Azis di Sulawesi Selatan
Kapten Andy Azis adalah bekas perwira KNIL yang telah diterima dalam APRIS dan bertugas di Sulawesi Selatan. Pemberontakan Andy Azis terkait dengan rencana pemerintah RIS mendatangkan 1 Bataliyon APRIS ke Sulawesi Selatan yang saat itu tidak aman karena sering dilanda demonstrasi baik oleh yang pro maupun yang anti negara federal. Rencana itu ditentang oleh Andy Azis yang bermuara pada pemberontakan Andy Azis bulan April 1950.
c. RMS (Rep. Maluku Selatan), sejak bulan April 1950 yang dipelopori oleh Mr. DR. Ch. R.S. Soumokil (mantan jaksa agung NIT). Menghadapi gerakan RMS yang merupakan gerakan separatis, pemerintah berusaha menyelesaikannya secara damai dengan mengirim misi Dr. Leimena. Karena gagal maka pemerintah menghadapinya dengan kekerasan senjata melalui ekspedisi militer yang dipimpin oleh Kol. Alex Kawilarang.
Ketiga pemberontakan di atas terkait dengan kepentingan kaum kolonial khususnya yang masih di Indonesia maupun kaki tangannya (eks KNIL). Sumbernya adalah hasil perjanjian KMB mengangkut pembentukan APRIS sebagai satu-satunya tentara Negara Indonesia Serikat (RIS) yang berintikan TNI (Tentara Negara RI) ditambah eks KNIL (Tentara Pemeirntah Hindia-Belanda) sebagai minoritas. Hal itu menimbulkan beban psikologis bagi keduanya, khususnya eks KNIL yang merupakan bekas tentara musuh bangsa Indonesia. Di sisi lain, tidak semua eks KNIL dapat diterima ke dalam APRIS oleh karena itu sebagian dari mereka kemudian melakukan aksi pemberontakan yang didukung oleh eks KL (Tentara Kerajaan Belanda).

Yang dilakukan oleh elemen-elemen bangsa Indonesia sendiri.
a. Penumpasan pemberontakan PKI Madiun
Perjanjian Renville yang isinya sangat merugikan pihak Indonesia, telah menyebabkan jatuhnya kabinet Amir Syarifuddin. Setelah berhenti dari kabinet Hatta, ia beralih haluan dengan bergabung pada FDR (Front Demokrasi Rakyat) yang berhaluan sosialis dan menempatkan diri sebagai oposisi kabinet Hatta.
Kelompok FDR ini dalam upaya merebut kekuasaan, melakukan berbagai cara seperti penculikan dan pembunuhan terhadap lawan politik. Langkah kelompok ini semakin merajalela setelah datangnya Muso dari Sovyet, yaitu dengan terjadinya peristiwa tanggal 18 September 1948 FDR/PKI memproklamasikan berdirinya "Sovyet Republik Indonesia" di Madiun.
Pecahnya pemberontakan ini ditindaklanjuti pemerintah dengan mengangkat Kolonel Gatot Subroto sebagai Gubernur militer daerah Surakarta, Pati dan Madiun, serta Kolonel Sungkono sebagai Panglima Divisi Jawa Timur untuk melaksanakan operasi militer. Dengan dukungan oleh rakyat, tanggal 30 September 1948 pemberontakan PKI Madiun bisa dipatahkan, Muso mati tertembak sedangkan Amir Syarifudin dihukum mati.
b. Pemberontakan DI/TII diberbagai daerah.
Pada dasarnya walaupun namanya sama, antara gerakan DI/TII di satu daerah tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan gerakan DI/TII yang meletus di daerah lainnya, karena masing-masing mempunyai latar belakang dan pemimpin yang berbeda.
1. Gerakan DI/TII di Jawa Barat yang dipimpin oleh SM. Kartosuwiryo mempunyai akar persoalan militer dan politik yaitu perjanjian Renville antara RI dengan Belanda serta keinginan mendirikan negara yang berdasarkan Islam. Pemberontakan yang berlangsung sejak 1949 baru dapat dipadamkan tahun 1962 lewat operasi Baratayuda dengan siasat Pagar Betis.
2. Gerakan DI/TII di Jawa Tengah baik yang meletus di daerah Tegal-Brebes-Pekalongan yang dipimpin oleh Amir Fatah, maupun yang meletus di Kebumen yang dipimpin oleh Kyai Mahfudz Abdur Rahman atau Kyai Somo Langu yang mendapat dukungan dari anggota batalyon 426 di Kudus dan Magelang. Menghadapi aksi DI/TII di Jawa Tengah, pemerintah membentuk operasi pusat yang disebut Gerakan Banteng Negara yang diantaranya adalah operasi Merdeka Timur yang menghancurkan Gerakan DI/TII di wilayah Jawa Tengah bagian selatan-Tengah.
3. Gerakan DI/TII di Aceh, gerakan ini dipimpin oleh Tengku Daud Beureuh, mantan Gubernur militer DI Aceh dan Ketua PUSA. Issu sentral yang menjadi penyebabnya adalah masalah otonomi daerah dan perimbangan pusat dengan daerah. Sedangkan pemicunya adalah diturunkannya status Aceh dari Daerah Istimewa (setingkat propinsi) menjadi Karisidenan di bawah propinsi Sumatera Utara. Pemberontakan yang berlangsung sejak th. 1953 dapat diakhiri th. 1962 melalui Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh yang salah satunya adalah pemberian amnesti pada Daud Beureuh.
4. Gerakan DI/TII di Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh Ibnu Hajar. Penyebabnya adalah menyangkut rasionalisasi/demobilisasi tentara oleh Pemerintah di seluruh Indonesia.
Ibnu Hajar alias Haderi bin Umar alias Angli adalah seorang mantan letnan dua TNI yang kemudian memberontak dan menyatakan gerakannya sebagai bagian DI/TII Kartosuwiryo. Dengan pasukan yang dinamakan Kesatuan Rakyat yang tertindas, Ibnu Hajar menyerang pos-pos kesatuan tentara di Kalimantan Selatan dan melakukan tindakan pengacauan pada bulan Oktober 1950, pemerintah masih memberikan kesempatan kepada Ibnu Hajar untuk menghentikan petualangan secara baik-baik. Ia dan kesatuannya pernah menyerahkan diri tetapi setelah menerima perlengkapan, Ibnu Hajar melarikan diri dan melanjutkan pemberontakannya. Perbuatan itu dilakukan lebih dari satu kali sehingga pemerintah memutuskan untuk mengadakan operasi. Gerakan perlawanan baru berakhir pada bulan Juli 1963. Ibnu Hajar dan anak buahnya menyerah. Pada tanggal 22 Maret 1965 pengadilan militer menjatuhkan hukuman mati kepada Ibnu Hajar.
5. Pemerintah revolusioner Rakyat Indonesia (PRRI) Perjuangan Rakyat Semesta (PERMESTA). Pemberontakan ini adalah yang paling berat yang dirasakan pemerintah, karena dilakukan oleh kalangan militer yang di samping mempunyai kekuatan dan pengalaman juga mempunyai indikasi bekerjasama dengan pihak asing (Barat). Latar belakangnya disamping instabilitas pemerintah juga ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan keuangan/pembangunan pemerintah pusat pada daerah khususnya Sumatera dan Sulawesi.
Pemberontakan ini dimulai akhir Desember 1956 yang diawali dengan pembentukan Dewan-dewan Daerah oleh para panglima daerah seperti Dewan Banteng (20 Desember 1956) Di Padang oleh Letkol Ach. Husein, Dewan Gajah (22 Desember 1956) di Medan oleh Kol. Simbolan, Dewan Garuda (Januari 1957) di Palembang oleh Kol. Barlian, Dewan Manguni (17 Pebruari 1957) di Manado oleh Kol. Vence Sumual. Dewan-dewan tersebut berusaha mengambil alih kekuasaan pemerintah.
Perkembangan lebih jauh adalah ketika pada tanggal 15 Pebruari 1958 sesuai ultimatumnya tgl. 10 Pebruari 1958 yang ditolak oleh Pemerintah Pusat, Achmad Husein memproklamasikan berdirinya PRRI dengan Mr. Syafrudin Prawiranegara sebagai PM. Menghadapinya pemerontakan tersebut, pemerintah mengambil beberapa langkah antara lain :
a. Memecat oknum-oknum yang terlibat secara tidak hormat.
b. Membekukan Kodam Sumatera Tengah.
c. Operasi penumpasan pemberontakan PRRI /Permesta :
1) Operasi Tegas dilaksanakan di Riau untuk mengamankan instalasi minyak dan mencegah campur tangan asing, dipimpin oleh Letkol Kaharudin Nasution.
2) Operasi 17 Agustus di daerah Sumatera Barat dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani
3) Operasi Sapta Marga di Sumatera Utara dipimpin oleh Brigadir Jenderal Djatikusumo.
4) Operasi Sadar di Sumatera Selatan dipimpin Letkol Dr. Ibnu Sutowo.
5) Operasi Merdeka merupakan operasi gabungan yang dipimpin oleh Letkol Rukminto Hendraningrat yang terdiri atas :
a) Operasi Saptamarga I di Sulawesi Utara bagian Tengah dipimpin oleh Letkol Soemarsono.
b) Operasi Saptamarga II di Sulawesi Utara bagian Selatan dipimpin oleh Letkol Agus Pramono.
c) Operasi Saptamarga III di sekitar Menado dipimpin oleh Letkol Magenda
d) Operasi Saptamarga IV di wilayah Sulawesi Utara dipimpin oleh Letkol Rukminto Hendraningrat.
e) Operasi Mena I di daerah Jailolo dipimpin oleh Letkol Pieters
f) Operasi Mena II untuk merebut lapangan udara Morotai dibawah pimpinan Letkol Kiko Hunholz.

Pengkhianatan G 30 S/PKI dan penumpasannya
Sejak diterapkannya konsep Demokrasi Terpimpin di Indonesia pada tahun 1959, memberi peluang yang sangat besar bagi PKI untuk memperluas dan mengembangkan pengaruhnya dalam semua komponen masyarakat, pemerintahan maupun angkatan bersenjata.
Tujuan utama PKI adalah menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi komunis.
1. Langkah-langkah yang ditempuh PKI dalam rangka melaksanakan / mencapai tujuan antara lain :
a. Melakukan aksi sepihak, sabotase, aksi terorisme seperti peristiwa Jengkol, peristiwa Indramayu, Peristiwa Boyolali, peristiwa Kanigoro, Bandar Betsy, dsb.
b. Merumuskan metode kombinasi tiga bentuk perjuangan (MKTPB)
c. Memanipulasi terhadap pidato-pidato kenegaraan seperti : Jarek, Resopim, Takem, Gasuri, Tavip, dan Takari.
d. Membentuk biro khusus di bawah pimpinan Syam Kamaruzaman.
e. Melakukan penyusupan ke tubuh ABRI, organisasi politik maupun organisasi masyarakat.
f. Mengajukan usul pembentukan angkatan kelima setelah ABRI yaitu rakyat yang dipersenjatai.
g. Melakukan aksi fitnah terhadap para Jenderal AD dan dokumen Gilshrist.
h. Melaksanakan latihan militer di Lubang Buaya Pondokgede Jakarta.
i. Menebarkan isu tentang kondisi kesehatan Presiden Soekarno yang semakin memburuk.
2. Pelaksanaan Pemberontakan G 30 S/PKI
Untuk melancarkan pemberontakan, PKI telah menyusun organisasi gerakan yaitu :
a. Pimpinan gerakan : Dipo Nusantara Aidit.
b. Pimpinan pelaksanaan : Syam Kamaruzaman.
c. Pimpinan militer : Letkol Inf. Untung, Kol. Inf. Latief, Mayor Udara Suyono, Brigjen Suparjo
d. Pimpinan sipil : Syam dan Pono
e. Pimpinan observasi : Bono (Waluyo)
Sasaran utama G 30 S adalah para perwira tinggi AD dan untuk memperlancar usaha tersebut maka dibentuklah kesatuan bersenjata yaitu :
a. Pasukan Pasopati yang bertugas menculik 7 perwira tinggi AD dipimpin oleh Lettu Inf. Dul Arief.
b. Pasukan Bima Sakti bertugas menguasai kota Jakarta di pimpin oleh Kapten Suradi.
c. Pasukan Gatotkaca dipimpin Mayor udara Gatot Sukrisna bertugas sebagai pasukan cadangan di Lubang Buaya.
Gerakan sudah ditentukan tanggal 1 Oktober 1965 pada pukul 04.00 tetapi kemudian diubah tanggal 1 Oktober 1965 dini hari dengan menculik dan membunuh para perwira tinggi AD yaitu Letjen Ahmad Yani, Mayjen R. Suprapto, Mayjen Haryono Mas Tirtodarmo, Mayhen Suwondo Parma, Brigjen Donald Izacus Panjaitan dan Brigjen Sutoyo Siswomiharjo.
Selain itu juga gugur Lettu Piere Andreas Tendean, Brigadir Polisi Sasuit Tubun, Kolonel Katamso dan letkol Sugiyono. Mereka yang gugur tersebut oleh Pemerintah dianugerahi sebagai pahlawan Revolusi yang gugur membela dan mempertahankan Pancasila.
Kemudian pimpinan gerakan mengumumkan melalui RRI bahwa telah terjadi kudeta yang dilakukan oleh dewan jenderal terhadap pemerintah.
Selanjutnya pada siang harinya diumumkan pembentukan Dewan Revolusi dipusatkan dan daerah, pendemisioneran Kabinet Dwikora. Akibat siaran RRI tersebut masyarakat semakin resah dan kebingungan.
3. Penumpasan Pemberontakan G 30 S/PKI
Akibat terbunuhnya pucuk pimpinan TNI AD oleh PKI maka Pangkostrad segera melakukan tindakan tegas untuk menumpas gerakan 30 S.
Langkah-langkah yang diambil antara lain :
a. Memerintahkan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edi Wibowo untuk merebut kembali RRI pusat komunikasi.
b. Mengadakan kontak dengan Pangdam V Jaya.
c. Menetralisir dan menyadarkan pasukan yang dipengaruhi G 30 S/PKI
d. Mengumandangkan siaran radio yang pada intinya menyebutkan bahwa telah terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh PKI.
e. Mengadakan operasi penumpasan di pusat / basis kekuatan PKI.
f. Mencari tempat para jenazah korban keganasan PKI.
Akhirnya pengkhianatan G 30 S/PKI berhasil ditumpas berkat kesetiaan ABRI dan rakyat terhadap Pancasila. Sehubungan dengan adanya pengkhianatan G 30 S/PKI maka bermunculan reaksi yang datang berbagai elemen baik parpol, ormas, mahasiswa maupun pelajar yang menuntut pembubaran PKI dan ormas-ormasnya.
Sehingga pada tanggal 10 Januari 1966 KAMI menuntut pada pemerintah dengan “TRITURA” yang isinya :
2. Bubarkan PKI
3. Bersihkan kabinet dari unsur G 30 S/PKI
4. Turunkan harga
Gelombang demonstrasi memakan korban salah satu aktifis yaitu Arief Rahman Hakim yang selanjutnya diberi gelar sebagai pahlawan Ampera.
4. Polemik sekitar G 30 S/PKI
Selama dua dasawarsa lebih hingga kini, sebenarnya masih terjadi polemik di seputar peristiwa Gerakan 30 September. Bahkan semakin menghangat setelah Presiden Soeharto turun dari jabatannya pada Mei 1998 lalu.
Dari beberapa polemik tersebut, terdapat beberapa versi yang terungkap, namun masih harus diuji kebenarannya. Adapun beberapa versi tersebut adalah sebagai berikut.
a. Versi yang menyebutkan bahwa PKI adalah dalang dari peristiwa Gerakan 30 September. Penganut versi tersebut berpendapat bahwa PKI telah membangun kekuatan secara sistematis. Termasuk menginfiltrasi dan memperalat oknum-oknum ABRI dalam rangka menghancurkan kelompok penentangnya.
Bukti pendukung versi ini adalah kehadiran Biro khusus yang dipimpin oleh Syam Kamaruzaman, sebuah organ rahasia dan nonstructural di bawah D.N. Aidit. Bukti lain adalah dukungan terbuka dari surat kabar “Harian Rakyat” pada 2 Oktober terhadap Gerakan 30 September. Selain itu, bukti versi ini diperkuat oleh adanya pengakuan dari para pemimpin PKI di depan Mahkamah Militer luar Biasa (Mahmilub). Njono, misalnya mengaku agar anggota ormas PKI dilatih sebagai tenaga cadangan. Versi ini terdapat dalam “buku putih” yang dikeluarkan oleh Sekretariat negara Republik Indonesia maupun buku-buku sejarah yang diajarkan disekolah-sekolah.
b. Versi yang menyebutkan bahwa peristiwa Gerakan 30 September sebenarnya merupakan akibat dari konflik intern di dalam tubuh Angkatan Darat. Versi ini dikemukakan oleh Ben Anderson dan Ruth Mc Vey dalam kertas kerjanya yang kemudian dikenal sebagai Cornell Paper. Dalam versi ini kedua ahli tersebut menyatakan bahwa PKI tak memiliki motif melakukan kudeta karena saat itu situasi politik sangat menguntungkan PKI. Oleh karena itu, upaya terbaik PKI adalah mempertahankan status quo dan sebaliknya bukan mengacaukannya dengan peristiwa berdarah yang akan merugikan posisinya.
Dalam pandangan versi ini, peristiwa Gerakan 30 September adalah puncak kekecewaan dari berbagai perwira menengah Jawa atas kepemimpinan di AD. Para perwira “progresif” itu menilai bahwa para jendral AD “telah disilaukan oleh kehidupan Jakarta yang gemerlap” sehingga perlu “diingatkan”.
c. Versi yang menyebutkan bahwa Letjen Soeharto adalah orang yang sesungguhnya berada dibalik peristiwa Gerakan 30 September. Mereka lantas menyodorkan sejumlah fakta. Sebagai Panglima Kostrad ia adalah jendral yang biasa mewakili Panglima AD bila yang bersangkutan pergi ke luar negeri dan pemegang komando pasukan. Namun, dalam posisi itu, Soeharto tak masuk dalam daftar korban penculikan. Logikanya, pihak lawan harus mengutamakan pembersihan terhadap orang-orang yang memiliki pasukan dan memegang komando. Kecuali bila ia dianggap sebagai “kawan” atau setidak-tidaknya diperkirakan akan bersimpati terhadap gerakan tersebut.
Lebih jauh W.F. Wertheim, sejarawan Belanda, mengatakan Soeharto memiliki hubungan dengan semua perwira AD yang terlibat Gerakan 30 September. Misalnya, Kolonel Untung Sutopo dan Kolonel Latief yang merupakan bekas anak buah dan dikenal dekat dengan Soeharto. Keterangan Soeharto yang berubah-ubah juga membangkitkan rasa curiga. Dalam wawancara dengan majalah “Der Spiegel”, Juni 1970, Soeharto mengaku sempat berbincang dengan Kolonel Latief di RSPAD Gatot Subroto pada 30 September malam. Namun, dalam buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya,” Soeharto menyatakan hanya melihat Kolonel Latief dari kejauhan. Berdasarkan pengakuan dari Kolonel Latief sendiri disebutkan bahwa memang pada malam itu ia bertemu dan melaporkan tentang rencana penculikan para jendral AD kepada Soeharto. Namun, Soeharto tidak mengambil tindakan.
d. Versi yang menyebutkan bahwa Presiden Soekarno ikut campur dalam peristiwa Gerakan 30 September. Versi ini bahkan menyebut Presiden Soekarno sebenarnya mengetahui rencana PKI sebelumnya. Sebagai indikasi, ada “surat rahasia” yang diberikan kepada Presiden Soekarno di sela-sela acara pertemuan persatuan ahli teknik di Senayan, Jakarta pada 30 September 1965. Surat tersebut konon berasal dari kolonel Untung Sutopo. Versi ini terdapat dalam kumpulan dokumen CIA yang diterbitkan pada 1995, yaitu “The Coup that Backfired”.
Dokumen tersebut juga menyebutkan adanya pertemuan antara Brigjen Sugandhi, Kepala Penerangan Hankam, dan Presiden Soekarno pada 30 September 1965 siang. Dalam pertemuan itu, Brigjen Sugandhi memberitahukan tentang rencana kudeta PKI yang diketahuinya dari pembicaraannya dengan D.N. Aidit dan Sudisman. Tapi, konon, Presiden Soekarno justru marah dan menyebut Sugandhi sebagai seorang komunisfobia. Presiden Soekarno kemudian memerintahkan Sugandhi untuk tutup mulut.
e. Versi yang menyebutkan bahwa peristiwa Gerakan 30 September adalah sebuah skenario Presiden Soekarno untuk melenyapkan oposiosi dari para perwira tinggi yang menentang sikap politiknya. Versi ini dikemukakan oleh Anthony Dake, sejarawan Amerika Serikat. Kesimpulan tersebut didasarkan atas kesaksian Bambang Widjonarko, ajudan Presiden, di Mahmilub. Pihak Amerika Serikat juga percaya dengan versi tersebut, terutama karena kemunculan Soekarno di Pangkalan Halim Perdanakusuma, perlindungannya kepada sejumlah pemimpin PKI, dan ketidakmampuannya untuk memperlihatkan simpati atas terbunuhnya para jendral.
f. Versi yang menyebutkan bahwa Gerakan 30 September terjadi karena adanya campur tangan dari Central Intelligence Agency (CIA). Dinas intelejen Amerika Serikat itu dianggap memprovokasi PKI agar melakukan kudeta. Tapi, kudeta itu dikonndisikan sedemikian rupa supaya berlangsung secara premature. Dengan begitu, PKI bisa langsung dihancurkan. Versi ini dikemukakan oleh Peter Dale Scott, guru besar Universitas California, Amerika Serikat. Namun, menurut Audrey dan George Mc Turner Kahin dalam buku “Subversion as a Foreign Policy”, pihak Inggrislah yang paling memiliki motif untuk medesakkan perubahan politik di Indonesia. Alasannya, dengan perubahan politik, Inggris tidak perlu lagi mengucurkan dana besar-besaran untuk mempertahankan Malaysia dari politik konfrontasi yang saat itu dijalankan pihak Indonesia.
g. Versi yang menyebutkan bahwa pelaku peristiwa Gerakan 30 September adalah faktor intern (dalam negeri) yang didukung oleh faktor internal (luar negeri). Versi ini dikemukakan oleh Dr. Asvi Warman Darman, seorang peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Berbagai versi di seputar Gerakan 30 September seperti yang disebutkan di atas merupakan versi yang diungkapkan oleh para pelaku yang terlibat atau mereka yang berada pada saat peristiwa itu terjadi serta para ahli yang khusus meneliti peristiwa tersebut. Namun, sekali lagi, berbagai versi tersebut masih perlu diuji kebenarannya agar kebenaran sejarah dapat terungkap.

II. KEGIATAN SISWA
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut sesuai dengan perintahnya ! (Kerjakan di buku tugas)
1) Jelaskan tugas-tugas AFNEI di Indonesia !
2) Jelaskan sebab-sebab terjadinya pertempuran Ambarawa-Magelang !
3) Sebutkan dan jelaskan perundingan awal sebelum terjadinya perjanjian Linggarjati !
4) Sebutkan pokok-pokok kesepakatan yang dihasilkan perundingan Linggarjati ?
5) Sebutkan dampak negatif dari perundingan Renville bagi bangsa Indonesia !
6) Bagaimanakah keadaan RI akibat agresi militer Belanda II !
7) Jelaskan peranan PDRI di Bukit Tinggi !
8) Mengapa pemerintah Indonesia mau menerima bentuk negara serikat ?
9) Apakah yang menjadi tugas UNCI!
10) Jelaskan tiga sebab mengapa RIS berubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia!

III. UJI KOMPETENSI
Pilihlah salah satu jawaban yangpaling tepat dengan cara memberikan tanda silang (x)pada huruf a,b,c,d atau e !

1. Latar belakang munculnya gerakan PRRI adalah …..
a. tidak setuju dengan bentuk negara
b. tidak setuju dengan sistem pemerintahan
c. adanya ketidakcocokan diantara para penguasa
d. tidak adanya pemerataan pembangunan di daerah
e. banyaknya ketidakadilan di pusat pemerintahan.
2. Pemberontakan PRRI bisa disebut sebagai pemberontakan yang paling berat di masa Demokrasi Liberal, khususnya karena ……
a. didukung oleh sebagian rakyat
b. melibatkan beberapa perwira tinggi dan pejabat negara
c. anggotanya mayoritas para pejuang bangsa
d. dilakukan oleh kelompok yang memperoleh suara paling banyak dalam pemilu dan didukung para perwira TNI
e. mendapat dukungan dari negara lain
3. Kahar Muzakar menyatakan gerakannya berada dibawah gerakan DI/TII Kartosuwiryo, karena ....
a. mendapat dukungan dan bantuan dari Kartosuwiryo
b. mempunyai tujuan yang sama
c. Kartosuwiryo mengangkat sebagai Panglima Devisi IV Tentara Islam Indonesia
d. ingin mengembangkan kekuasaan dengan dasar-dasar yang terdapat dalam ajaran Islam di Indonesia
e. mencita-citakan agar Sulawesi Selatan menjadi sebuah negara merdeka
4. Republik Maluku Selatan dinyatakan lahir dengan proklamasi memisahkan diri dari kekuasaan Republik Indonesia pada tanggal ……
a. 25 April 1950
b. 24 Mei 1950
c. 14 April 1950
d. 4 April 1950
e. 24 April 1950
5. Usaha mempertahankan kemerdekaan dilakukan dengan cara….
a. perjuangan fisik
b. konfrontasi dan diplomasi
c. peningkatan taraf hidup rakyat
d. pembentukan angkatan perang yang kuat
e. pemecah belahan kekuatan musuh
6. Belanda secara de yure mengakui kedaulatan Indonesia pada tanggal….
a. 17 Agustus 1945
b. 27 Desember 1945
c. 27 Desember 1949
d. 27 Agustus 1950
e. 27 Desember 1950
7. Hasil Konferensi Meja Bundar adalah sebagi berikut, kecuali….
a. Negara Indonesia harus berbentuk federasi
b. Tiap Negara federasi berhubungan dengan Netherland
c. Federasi dibentuk dan kedaulatan dipegang oleh Belanda
d. Belanda mengakui RI secara de facto
e. Semua jawaban salah
8. KMB dilaksanakan di Den Haag pada tanggal 23 Agustus – 2 November 1949 dihadiri oleh….
a. RI, BFO, Belanda
b. Indonesia, UNCI
c. Indonesia, Belanda, UNCI
d. RI, UNCI, Belanda
e. BFO, UNCI, Indonesia
9. Rakyat Maluku Selatan melakukan pemberontakan karena mendapat hasutan dari …..
a. Ir. Manusama
b. Mr. Dr. Cristian Robert Steven Soumukil
c. Para prajapati
d. Kolonialis Belanda
e. Gabungan sembilan serangkai
10. Dibawah ini yang bukan pemimpin peristiwa Palagan Ambarawa ialah …
a. Jendral Sudirman
b. Letkol Isdiman
c. Letkol Gatot Subroto
d. M. Sarbini
e. Ahmad Yani
11. Peristiwa Bandung Lautan Api adalah akibat dari….
a. Rakyat Bandung tidak mengindahkan ultimatum sekutu untuk meninggalkan kota Bandung
b. Pembumihangusan kota Bandung oleh rakyat Bandung
c. Pembumihangusan kota Bandung oleh sekutu
d. Pembakaran kota Bandung oleh Belanda
e. Pertempuran antara Sekutu dengan rakyat Bandung yang menyebabkan hancur kota Bandung
12. Pertempuran Medan Area terjadi pada tanggal….
a. 2 November 1945
b. 10 November 1945
c. 3 Oktober 1944
d. 13 Oktober 1944
e. 13 Oktober 1945
13. Delegasi Indonesia dalam perundingan linggarjati pada tanggal 10-15 November 1946 dipimpin oleh….
a. Amir syarifuddin
b. Sutan syahrir
c. Ali sastroamijoyo
d. Drs. Moh. Hatta
e. Moh. Roem
14. Sebelum diadakannya perundingan linggarjati terlebih dahulu diadakan perundingan Houge Valuwe. Perundingan ini terjadi pada tanggal …
a. 14-30 April 1946
b. 14-20 April 1946
c. 14-25 April 1946
d. 14-27 April 1946
e. 14-15 April 1946
15. Negara yang ditunjuk dalam KTN yang bukan tunjukan Indonesia adalah….
a. Australia
b. Belgia
c. Amerika Serikat
d. Inggris
e. Perancis
16. Penumpasan G 30 S/PKI tgl. 1 Oktober 1965 yang dilakukan oleh RPKAD di bawah pimpinan ....
a. Sarwo Edi Wibowo
b. Jenderal Sudirman
c. Supriyadi
d. Sutan Syahrir
e. AH.Nasution
17. Pada tanggal 13 Juli 1949 pemerintah darurat RI di Sumatera mengembalikan mandat kepada pemerintah pusat di Yogyakarta. Hal ini merupakan perwujudan dari kesepakatan….
a. Perundingan Renville
b. Perundingan Roem-Royen
c. Konferensi inter Indonesia
d. Penyerahan dan pengakuan kedaulatan
e. KMB
18. Tujuan diadakannya konferensi Inter Indonesia adalah….
a. Agar Negara-negara BFO bergabung dengan RI
b. Agar Negara-negara BFO mendapat kemerdekaan secara penuh
c. Agar terjadi kesepakatan yang mendasar antara RI dengan BFO guna menghadapi KMB
d. Agar antara RI, BFO dan Belanda ada kesamaan pandangan
e. Untuk mencari jalan penyelesaian secara damai antara RI, BFO, dan Belanda
19. RIS terdiri dari Negara bagian dan daerah otonom :
1) Negara Sumatera Timur
2) Republik Indonesia
3) Bangka
4) Balitung
5) Madura
Negara-negara diatas yang termasuk negara bagian adalah…
a. 1,2, dan 3
b. 1,2, dan 4
c. 1,3, dan 4
d. 1,2, dan 5
e. 1,3, dan 5
20. Perhatikan pernyataan dibawah ini !
1. Mengakhiri perselisihan Indonesia-Belanda dengan jalan damai
2. Mengakhiri perselisihan Indonesia-Belanda dengan diplomasi
3. Mengakhiri perselisihan Indonesia-Belanda dengan jalan damai
4. Mengakhiri perselisihan Indonesia-Belanda dengan jalan konfrontasi
5. Mengakhiri perselisihan Indonesia-Belanda dengan bantuan negara besar
Tujuan diselenggarakannya KMB adalah….
a. 1,2, dan 3
b. 1,2, dan 4
c. 1,2, dan 5
d. 1,3, dan 4
e. 1, 3, dan 5
21. Untuk menandingi isu dewan jendral dan dokumen Gilchrist, PKI membuat tandingan dengan membentuk ….
a. angkatan kelima
b. dewan revolusi
c. barisa pemuda rakyat
d. badan pendukung soekarno
e. gerakan wanita Indonesia
22. Munculnya gerakan DI/TII Kartosuwiryo disebabkan oleh ….
a. rasa tidak puas terhadap peme-rintah RI
b. rasa tidak puas terhadap hasil perjanjian Reville
c. rasa tidak puas terhadap hijrahnya pasukan TNI ke Jawa Tengah
d. keinginan Kertosuwiryo mendirikan negara berdasakan hukum-hukum Islam.
e. memperbaiki taraf kehidupan masyarakat Jawa Barat.
23. Yang dimaksud garis Van Mook adalah, kecuali….
a. Garis demarkasi
b. Garis khayal
c. Garis nyata
d. Garis pemisah
e. Garis yang ditarik dari pucuk daerah pertahun
24. Penumpasan DI/TII di Jawa Tengah dilakukan dengan operasi militer yang disebut ….
a. Operasi Bharata yuda
b. Operasi 17 Agustus
c. Operasi Pagar Betis
d. Gerakan Banteng negara
e. Operasi Sapta marga
25. Pemberontakan DI/TII Aceh berlatarbelakang ….
a. ingin mendirikan negara sendiri
b. diturunkannya status Aceh
c. tidak adanya perhiasan pemerintah
d. penolakan terhadap pembentukan APRIS
e. menolak dijadikannya Aceh sebagai propinsi
26. APRA melakukan kekacuan di Jakarta dengan tujuan ....
a. menguasai pusat pemerintah
b. melemahkan TNI pusat
c. mencari perhatian dunia
d. menculik Sri Sultan Hamengkubuwono IX
e. mengalihkan perhatian dari pusat Apra di Bandung
27. Andi Azis menolak keberadaan APRIS sebab ....
a. APRIS hanya di Jawa
b. Anggota APRIS tidak berasal dari para pejuang
c. APRIS merupakan kehendak dari kolonialis Belanda
d. APRIS masuk KL dan KNIL
e. Andi Azis sebagai perwira KNIL di Sulawesi Selatan tidak mendapat kekuasaan teritorial atas wilayahnya.
28. Salah satu ultimatum yang diberikan PRRI/Permesta kepada pemerintah pusat adalah ....
a. Pemerintah pusat harus mengakui kedualatan PRRI
b. Presiden harus mencabut mandat kabinet Djuanda
c. Pemerintah harus mengakui berdirinya dewan-dewan daerah
d. Presiden harus mengangkat Syarifudin Prawiranegara sebagai perdana menteri
e. Presiden harus membubarkan NKRI kembali pada negara RIS
29. Pemberontakan Westerling memakai nama perang Ratu Adil karena …..
a. Ratu Adil merupakan jaminan nama pemimpin rakyat Indonesia sejak dahulu
b. dengan nama Ratu Adil agar didukung rakyat banyak
c. memperjuangkan keadilan
d. menarik perhatian
e. mencari simpati dan dukungan negara lain
30. Pengaruh perkembangan politik internasional bagi perluasan pengaruh PKI di dalam negeri dapat dibuktikan dengan sikap politik luar negeri Indonesia yang sikap condong kepada ….
a. pemerintah komunis di Cina dan Uni Soviet
b. blok barat
c. negara-negara non blok
d. minta bantuan PBB
e. cina dan memusuhi Uni Soviet


Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas !
1. Sebutkan 3 langkah yang ditempuh pemerintah untuk mengatasi terjadinya pemberontakan PRRI/Pramesta!
Jawab :…………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
2. Sebutkan 4 isi persetujuan Rom Royen!
Jawab :…………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
3. Sebutkan peranan Pemerintah Darurat Republik Indonesia!
Jawab :…………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
4. Jelaskan 2 makna ke dalam dan keluar serangan umum 1 Maret 1949!
Jawab :…………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
5. Sebutkan keputusan hasil konferensi Inter Indonesia !
Jawab :…………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
6. Jelaskan 4 tugas tentara AFNEI di Indonesia!
Jawab :…………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
7. Jelaskan latar belakang pemberontakan PRRI/Permesta !
Jawab :…………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
8. Jelaskan usaha yang dilakukan Amir Syarifudin dengan kekuatan PKI untuk melancarkan KUP!
Jawab :…………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
9. Jelaskan latar belakang Agresi Militer Belanda I dan Agresi Militer Belanda II!
Jawab :…………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
10. Mengapa gerakan G 30 S/PKI mengalami kegagalan ?
Jawab :…………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………

1 komentar:

  1. mau di bwa ke mn, hubunga kita...
    tra la la la...
    https://www.cr0z1.blogspot.com/

    BalasHapus